Plague of Happiness| Walau Beda Tutur Kata, Tapi Hati Tetap Sama

Cek Sound

Plague of Happiness| Walau Beda Tutur Kata, Tapi Hati Tetap Sama

Perjalanan 10 hari di Indonesia diabadikan Plauge of Happiness menjadi sebuah lagu berjudul Februari. Lagu sangat kental soal persahabatan antara Indonesia dan Malaysia. Lagu ini menceritakan bagaimana hangatnya persahabatan Indonesia dan Malaysia saat Plafie of Happiness menggelar rangkaian Tour dari Jakarta ke Surabaya. Tak hanya itu, Nas (Vokalis & gitar) bahkan menyebut banyak band ska Indonesia yang menginspirasi. Salah satunya noin bullet (Band Ska asal Bandung).

Plague of Happiness menjadi band pertama dalam tour cek sound di luar Indonesia. Plague of Happiness berdiri pada tahun 1999. Band yang mengusung aliran musik ska ini mempunyai sebuah album yang dirilis tahun 2007 bertajuk kawan. Selain itu Plague of Happiness juga telah mempunyai beberapa album kompilasi di beberapa negara seperti Norway, Bulgaria, dan Malaysia. 

Plague of Happiness terdiri dari Nas (penyanyi dan gitar), Ipin (bass dan penyanyi latar), Atoi (trumpet), Azmal (saksofon tenor), Nausad (trombone), Arab (gitar), Pozy (dram), Kateq (trombone) dan Anip (trumpet).

OTHER POD
  • Peran The Sabotage Membentuk Kultur Street Punk Jakarta

    Peran The Sabotage Membentuk Kultur Street Punk Jakarta

    Band asal Ibukota yang satu ini turut membentuk kultur street punk di Tanah Air. Terbentuk sejak 1996, The Sabotage awalnya adalah band 'rumahan'. Bahkan awal kemunculannya di Poster Cafe, The Sabotage masih meng-cover lagu-lagu bernuansa punk rock.

    Seiring waktu, The Sabotage yang memilih konsisten di street punk, sukses merilis beberapa album, seperti: There No Good Side of War “Split Single” with Dickhead (D-Beat HC/Punk Jakarta pioner - 2000), Anarchy Still Alive (LP - 2001) , Jakarta Chaos City “Demo Version” (2003), Give Us a Freedom (EP - 2006) dan Unreleased Single “Free CD” (2013). Beberapa single mereka juga terlibat dalam beberapa kompilasi punk seperti Still One Still Proud Vol. 2 (1999) yang berhasil didistribusikan dengan skala internasional.

    Pada 2016 The Sabotage juga sempat merilis album split dengan band punk street/Oi! Asal Denver, Amerika Serikat, The Bad Engrish. So, langsung saja dengarkan cerita Geboy - The Sabotage dengan Yudha 'Komeng" dalam Cek Sound episode ke 24 ini!

  • Tak Benar-Benar Melupakan Rocket Rockers | Ft. Ucay

    Tak Benar-Benar Melupakan Rocket Rockers | Ft. Ucay

    Kendati sudah 8 tahun tak bersama Rocket Rockers, namun Noor Al Kautsar a.k.a Ucay tak sepenuhnya melupakan. Buktinya, dua album Rocket Rockers kaset masih menemaninya di kantor. Selain itu banyak cerita menarik dari perjalanan Ucay bersama Rocket Rockers. Mulai dari perjuangan di skena bawah tanah sampai pemilihan diksi dalam bait lagu.

  • Tak Menyerah Tetap Bergelora

    Tak Menyerah Tetap Bergelora

    Keputusan pemerintah membatasi kerumunan untuk mencegah penularan covid-19, berdampak hampir keseluruh sektor. Salah satunya industri kreatif.
    Bagi musisi dan pelaku musik tak ada jalan 'putar balik'. Berbagai strategi dipakai untuk tetap bisa berkarya. 

    Di hari musik nasional 9 Maret lalu, ivanka @greenslank ,  @thebrndls
    @indonesia_ska_connection @aduyz (Majesty), @toiletsounds_official . Selain itu ada juga , Renhat @souljahmusik , @sengaujakartaofficial @steady_beatjakarta dll. Dan, dipandu sama @koms_dirtyrockin
    bercerita soal bagaimana perjuangan mereka tak menyerah dan tetap bergelora. 
    Mau tahu lengkapnya, jangan sungkan bertamu ke podme.id di program ceksound untuk mendengarkan jurus-jurus ajaib dan luar biasa dari para musisi dan pelaku musik tetap bergerak di tengah pandemi.

  • Mengembalikan Memori ke Era Grunge 90-an | Ft. Sengau

    Mengembalikan Memori ke Era Grunge 90-an | Ft. Sengau

    Sengau salah satu band beraliran postgrunge/alternatif rock yang terbentuk di tahun 2018. Kendati band baru berusia 3 tahun, namun para personelnya diisi personel band lawas. HENDRIK (BLORONG) yogie (deadchromatic), azril (bigbutt), dan ari (bobrock)

    Keempatnya sepakat membentuk band dengan nuasa sound 90s. Album perdananya harus tertunda lantaran badai pandemi yang belum kunjung mereda. Namun gerilya kreatifitasnya terus berjalan.

  • Buckskin Bugle Belum Habis | Ft. Buckskin Bugle

    Buckskin Bugle Belum Habis | Ft. Buckskin Bugle

    Single berjudul “Bersama Selamanya” yang dilepas 2020, menegaskan bahwa Buckskin Bugle belum habis. Band yang berdiri tahun 1997 ini kini memiliki formasi Tedi (bass/vokal), Zico (gitar/vokal), dan Dimas (drums). Single tersebut becerita soal keadaan buckskin bugle yang masih solid dan ingin tetap eksis.

    Unit pop punk veteran ini memiliki sejarah panjang di pergerakan musik bawah tanah. Berawal dengan kecintaan yang sama yaitu memburu fashion di Cibadak Gudang Baju atau Cimol. Racikan musik yang 'memanjakan telinga' mengantarkan nama Buckskin Bugle melambung.

    Buckskin Bugle pun berkesempatan menjadi band pembuka tour Not Available (band punk veteran German) dan supergroup punk dari USA, MXPX All Stars. Yaitu Mike Herrera (MXPX) Kris Roe (THE ATARIS) dan Chris Wilson.

  • Plague of Happiness| Walau Beda Tutur Kata, Tapi Hati Tetap Sama

    Plague of Happiness| Walau Beda Tutur Kata, Tapi Hati Tetap Sama

    Perjalanan 10 hari di Indonesia diabadikan Plauge of Happiness menjadi sebuah lagu berjudul Februari. Lagu sangat kental soal persahabatan antara Indonesia dan Malaysia. Lagu ini menceritakan bagaimana hangatnya persahabatan Indonesia dan Malaysia saat Plafie of Happiness menggelar rangkaian Tour dari Jakarta ke Surabaya. Tak hanya itu, Nas (Vokalis & gitar) bahkan menyebut banyak band ska Indonesia yang menginspirasi. Salah satunya noin bullet (Band Ska asal Bandung).

    Plague of Happiness menjadi band pertama dalam tour cek sound di luar Indonesia. Plague of Happiness berdiri pada tahun 1999. Band yang mengusung aliran musik ska ini mempunyai sebuah album yang dirilis tahun 2007 bertajuk kawan. Selain itu Plague of Happiness juga telah mempunyai beberapa album kompilasi di beberapa negara seperti Norway, Bulgaria, dan Malaysia. 

    Plague of Happiness terdiri dari Nas (penyanyi dan gitar), Ipin (bass dan penyanyi latar), Atoi (trumpet), Azmal (saksofon tenor), Nausad (trombone), Arab (gitar), Pozy (dram), Kateq (trombone) dan Anip (trumpet).

  • Majesty | Berupaya Menggeser  Pengaruh Dashboard Confessional

    Majesty | Berupaya Menggeser Pengaruh Dashboard Confessional

    Di era 2000-an awal, Majesty bisa dianggap lumayan berpengaruh untuk perkembangan musik emo. Memperkenalkan karakter vokal tanpa marah-marah dan dibungkus sentuhan musik easy-listening manjadi magnet tersendiri untuk pendengar musik bawah tanah. Bahkan, sebagian pendengar menyebut Majesty sebagai Dashboard Confessional-nya Indonesia. 

    Namun, Majesty memutuskan berpisah sementara di tahun 2005. Jejak yang tersisa hanya lah 'Internal collaboration armour' dan 'hilang'.

    Di tahun 2020, Majesty tiba-tiba 'hidup kembali' dengan menelurkan Extended Play (EP) perdana mereka yang bertitel “DELUSI” dengan Official Music Video. Tapi kali ini, Majesty mencoba menghadirkan cita rasa berbeda, dengan sedikit menggeser pengaruh Dashboard Confessional.

  • MynameiS l Cerita 10 Ribu Kaset Ludes Terjual dan Pencarian Vokalis Baru

    MynameiS l Cerita 10 Ribu Kaset Ludes Terjual dan Pencarian Vokalis Baru

    Tahun 2006 bisa dikatakan sebagai masa emas untuk Mynameis. Peluncuran album 'Untukmu' membuat Mynameis benar-benar berada di puncak. Lebih kurang 10 ribu copy kaset ludes dijual. Bahkan album kedua Mynameis ini berlabuh di luar negeri. 

    Syair yang 'membumi' dan aransemen yang sederhana membuat album ini sangat dengan dengan masyarakat. Sampai-sampai lagu di album tersebut dibawakan oleh pengamen jalanan.

    Layaknya sebuah band, Mynameis pun mengalami berbagai masalah. Salah satunya keluarnya dua personel, yaitu Nurhadi, sebagai vokalis dan Fanny Budiman di posisi gitaris. Hal ini pun menjadi pekerjaan rumah Mynameis hingga saat ini.

  • No Pressure, Jalani dengan Rasa Senang

    No Pressure, Jalani dengan Rasa Senang

    Untuk episode kali ini, Cek Sound kembali ke Kota Hujan, untuk berbicang santai dengan Yagee (Gitar/Vokal) Topi Jerami. Band yang terbentuk di tahun 2006 ini tak hanya memiliki segudang karya, namun juga aktif di pergerakan musik bawah tanah. Salah satunya Rock In Rain dan ikut menggerakkan kompilasi Kolabogorasi. Bahkan pandemi bukan halangan buat band veteran pop punk untuk melahirkan karya-karya baru.

  • Pinball dan Pergerakan Musik Bawah Tanah Jakarta | Ft. Ipang (Pinball Records)

    Pinball dan Pergerakan Musik Bawah Tanah Jakarta | Ft. Ipang (Pinball Records)

    Record merupakan salah satu elemen penting bergulirnya pergerakan musik bawah tanah, khususnya pada akhir 90-an. Salah satu label/records yang mewarnai sejarah perkembangan musik 'bawah tanah' yaitu Pinball Records. Lewat tangan dingin Ipang, sejumlah band bawah tanah di Jakarta mampu menunjukkan eksistensinya, di antaranya Stepforward, No Label, dan Kuro!.